Ramadhan: Puasa Mengendalikan Diri

0
69
KH M Cholil Nafis, Saat di wawancara

CHOLILNAFIS.COM, Jakarta-Puasa itu arti mencegah (imsak) dan menahan. Artinya menahan diri dari yang membatalkan puasa berupa makan, minum dan menyalurkan syahwat kepada pasangan yang sah. Itu standard umum bagi orang yang berpuasa. Itulah syarat dan rukun zhahir yang harus dilakukan oleh orang yang berpuasa sehinga puasanya dinyatakan sah.

Namun bagi orang mukmin yang beriman kepada Allah SWT. tidak cukup hanya perangkat zhahir tapi harus juga dilangkapi dengan puasa batin, yaitu mencegah seluruh organ tubuh dari maksiat. Seperti mencegah pandangan dari yang haram, mulut tak bicara bohong, ghibah dan fitnah, tak memdengarkan yang dilarang Allah sehingga semua organ tubuh selalu dalam taat. Bahkan hatinya berpuasa sehingga mencegah dari berhayal dan memikirkan dunia yang menjauhkan diri dari ingat Allah SWT.

Totalitas puasa inilah yang dapat meraih takwa. Jika puasa hanya sifatnya zhahir maka puasa tak memiliki efek apapun kecuali haus dan lapar. Dan, ini hanya menggugurkan kewajiba puasa tanpa berdampak untuk mengubah kehidupan kepada yang lebih baik kecuali lapar dan haus. Inilah yang banyak dialami oleh orang yang berpuasa pada umumnya.

Seringkali disaksikan di masyarakat sebutan batal puasanya manakala melakukan perbuatan keji atau ucapan buruk. Artinya ia batal untuk mendapatkan pahala dan manfaat puasa. Puasa yang seharusnya memberi pengaruh baik pada karakter manusia menjafi sia-sia kalau tak dapat mencegah dari ucapan dan perbuatan keji. Dan, itu tak dikehendaki oleh Allah SWT.

Karakter utama dalam menjalankan ibadah puasa adalah kejujuran. Jujur dalam menjalankan ibadah semata-mata karena Allah SWT. sehingga terjalon keintiman. Dan itu yang akan mendapat pahala tanpa tara. Jujur adalah landasan awal bagi manusia untuk
meraih kebahagiaan karena karena jujur yang melahirkan ketenangan.

Sifat pelaksanaan puasa adalah rahasia makhluq dengan khaliq. Dalam ibadah puasa seorang manusia rela meninggalkan sesuatu yang dihalalkan demi mendapat ridhanya. Berpuasa itu merupakan latihan untuk menjadi hamba yang sebenarnya. Jika sesuatu yang halal dapat ditinggalkan demi radha-Nya apalagi sesuatu yang diharamkan.

Makanya saat berpuasa tak layak dan tak ada guna puasanya jika masih menggunjing, memfitnah dan mengadudomba orang. Baik perbuatan itu secara langsung atau melalui coretan jempol di medsos. Mari kita berpuasa dari makanan, minuman dan syahwat juga puasa dari maksiat serta puasa dari kesibukan duniawi yang dapat melalaikan dzikir kepada Allah SWT demi menggapai takwa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here