Asal Usul Tahun Hijriyah

0
237
KH. M. Cholil nafis, Lc., Ph,D., Selamat Tahun Baru Hijriyah 1441 H. Semoga meraih berkah dan mencapai semua impian baiknya

“Manakala seseorang teguh dalam keimanan dan mampu konsisten dalam keikhlasan dalam segala perbuatannya maka ia sebenarnya adalah orang yang hijrah kepada Allah SWT”

CHOLILNAFIS.COM, Jakarta-Waktu berputar tanpa henti. Waktu terlalu mahal untuk dibeli. Tak pernah bisa terulang kembali dari setiap waktu yang telah berlalu. Kini saatnya waktu mengganti tahu hijriyah 1440 H. dengan menyongsong tahun baru 1441 Hijriyah pada Sabtu malam Ahad 1 Muharram bertepata dengan 1 September 2019
Tahun Hijriyah seperti arti kalimatnya adalah pindah. Yaitu pindah dari suatu tempat/negara ke tempat yang lain.  Nama hijriyah diambil dari spirit hijrah Rasulullah saw. dari kota Mekkah ke kota Yarsrib yang setelah kepindahan Nabi saw. disebut Madinah.
Hitungan yang bermula dari hijrah Rasulullah saw. pada tahun 622 Masehi itu bermula dari keluhan  Abu Musa al-Asy’ari sebagai Gubernur Basrah, Irak.  Bahwa Gubernur selalu kesulitan mengadiministrasikan surat-surat dari Khalifah Umar bin Khaththab r.a.  Sebab tradisi dari sebelumnya bahwa surat yang ada hanya nama bulan dan tanggalnya. Sedangkan tahunnya berdasarkan peristiwa besar. Seperti tahu gajah saat kelahiran Nabi saw.
Kemudian Sayyidina Umar bin al-Khaththab mengubdang pembesar sahabat Nabi saw. Yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.  Mereka bermusyawarah untuk menentukan awal tahun.
Sebagian sahabat mengusulkan dimulai dari awal Nabi saw.  menerima wahyu, sahabat yang lain mengusulkan dimulai tahun Islam m dari lahir Rasulullah saw. Namun Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. mengusulkan utk dimulai tahun umat Islam sejak hijrah Rasulullah saw.
Usulan Sayyidina Ali r.a. yang diterima oleh peserta musyawarah sehingga diputuskan bahwa awal tahun Islam dimulai dari sejak hijrah rasulullah saw.  Inilah semangat tahun Islam adalah elan perjuangan dan keimanan. Yaitu Melaksanakan perintah Allah SWT. dan menjauhi segala larangan-Nya.
Ketika nama tahun Islam disandarkan pada spirit hijrah maka setiap waktu dari semua umat muslim merefleksikan nilai keimanan dan ketulusan. Hal ini merasakan detik-detik Nabi saw. hijrah yg menanamkan nilai-nilai heroik. Dimana Sayyidina Ali r.a. rela menggantikan selimut di tempat tidur Rasulullah saw. agar niat hijrah terlaksana. Betapa perjuangan Sayyidina Abu Bakar yang hijrah bersama Rasulullah saw. yang bersama-sama bersembunyi di gua Hiro selama tiga malam untuk menyelamatkan diri dari kejaran orang kafir Quraisy Mekkah.
Akhirnya Rasulullah saw. sampai di Madinah setelah transit dan membangun masjid di Quba’.  Penduduk Madinah (kaum Anshar) telah beriman kepada Rasulullah saw. dan senang serta mencibtai orang-orang yang hijrah bersama Rasulullah saw.  Bahkan mereka mereka rela memberi apapun yang dibutuhkan oleh orang-orang yang hijrah (muhajirin) meskipun dirinya sendiri membutuhkannya.
Solidaritas kaum Anshar itu totalitas kepada kaum Muhajirin. Beriman kepada Rasulullah saw. melalui dakwah damai tanpa peperangan.  Perjanjian yang termuat dalam konstitusi Madinah menunjukan betapa berdirinya negara Madinah berdasarkan kesepakatan seluruh masyarakat Madinah yang plural.
Ada tiga terminologi dalam agama Islam, yaitu Islam, iman dan hijrah. Islam berarti damai sehingga memberi rasa damai kepada orang lain dari ucapan dan tindakannya. Iman bereti memberi rasa aman terhadap diri dan harta orang disekitarnya. Sedangkan hijrah ialah menyingkir dari ucapan dan perbuatan buruk.
Dalam kontek kekinian Hijrah tak lagi bersifat fisik dan tempat. Rasulullah saw. telah menegaskan bahwa, tak ada kewajiban hijrah setelah penaklukan kota Mekkah. Hijrah yang diharapkan saat ini ialah hijrah dari seseuatu yang dilarang oleh Allah SWT., hijrah dari kemunkaran menuju ketaatan dan hijrah dari kekufurun menuju keimanan.
Orang yang hendak hijrah harus diluruskan sedari awal niatnya. Bahwa ia benar-benar niatnya karena Allah SWT. Jangan sampai berhijrah hanya istilahnya saja, pakaiannya apalagi hanya karena tuntutan gaya hidup pergaualan dengan teman. Orang yang hijrahnya karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah maka ia akan mendapat balasan baik dari keikhlasannya. Jika hijrah untuk kepentingan bisnis atau karena menikahi seseorang maka hijrahnya tak bernilai apa-apa.
Di era informasi dan hedonis sekarang ini cara hijrah yang efektif adalah mengasah kemampuan untuk mengendalikan diri. Yaitu tidak larut dalam kemegahan dan silau dengan gemerlap duniawi. Manakala seseorang teguh dalam keimanan dan mampu konsisten dalam keikhlasan dalam segala perbuatannya maka ia sebenarnya adalah orang yang hijrah kepada Allah SWT. (Ed.Fz)
ttd
KH. M. Cholil Nafis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here