Artikel : Sebuah Catatan Tentang Persahabatan

0
425
Foto Bersama di Masjid Baiturrahman di Banda Aceh, Kiai Cholil Nafis di Tengah Bersama Sahabat dan Rekan Kerja Saat Kunjungan.

“Seseorang akan dilihat karekternya tergantung   dengan siapa dia berteman. Tak mungkin ada persahabatan tanpa karena ada kecocokan diantaranya”

CHOLILNAFIS.COM, Jakarta-Suatu hari saya diundang oleh teman rekan kerja di keuangan syariah untuk melakukan kunjungan kerja di daerah Kepualauan Riau. Setiba di tempat sebagaimana biasanya kami melakukan audit kesesuaian syariah. Di malam harinya saya diajak jamuan malam makan duren dan ketan denagan temannya. Ternyata itu temannya sejak di sekolah dasar di kampungnya dulu yang terus akrab sampai sekarang.
Tak henti di situ, ia ternyata punya teman lima serangkai sejak kecil yang terus dipelihara dengan pertemuan berkala. Mereka sekarang di atas umur 40-an tahun yang menekuni profesi berbeda-beda. Ada yang jadi petinggi di Badan Usaha Milik Negara, top agen di asuransi, dua orang dokter spesialis jantung di  RS Aceh dan Riau, dan orang penting di Pemerintah Provinsi Papua.
Suatu saat saya pernah menemani pertemuan berkala yang mereka buat di Banda Aceh. Untuk mengakrabkan dan ketemu kangen mereka mengadakan “Rihlah Serambi Mekah” yang dibalut dengan wisata religi  seraya menikmati kuliner dan kopi. Mereka mengikat kimitmen pertemanan karena Allah SWT dan semata-mata saling menghargai. Bahkan saya pernah mengikrarkan seseorang masuk Islam karena melihat ketulusan mereka berteman.
Anugeerah terindah dalam hidup ini adala sahabat sejati. Sayyidina Umar bin al-Khaththab pernah berkata:  “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sahabat sejati) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]
Seseorang akan dilihat karekternya tergantung   dengan siapa dia berteman. Tak mungkin ada persahabatan tanpa karena ada kecocokan diantaranya. Orang akan selalu berkumpul dengan sahabatnya, baik di dunia maupun di akhirat.  Maka baik dan buruknya seseorang tergantung pada temannya. Ia saling mempengaruhi.  Rasulullah saw menegaskan: “Seseorang pasti sama dengan “agama” (prinsip) sahabatnya. Maka perhatikanlah siapa yang menjadi sahabatnya”. HR. Tutmudzi.
Dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw. menunjukan betapa berartinya seorang sahabat. Para sahabat Nabi saw. bagaikan bintang-bintang yang mengelilinginya. Saat sulit berjuang di jalan Allah SWT. dengan berbagai rintangan dan ancaman maka yang membela dan membantu Rasulullah saw adalah para sahabatnya. Bagaimana Seyyidina Ali r.a. rela menggantikan selimut Nabi untuk mengelabuhi orang kuffar Quraisy. Dan itu dalam keadaan bahaya pembunuhan.
Saat bersamaan untuk hijrah bersama Nabi saw. adalah Abu Bakar al-Shiddiq menemani perjalanan dan bersembunyinnya di gua Tsur. Di persembunyian di dalam gua Tsur itu Sayyidina Abu Bakar rela kakinya disengat Kala Jengking demi menyelamatkan sahabatnya, yaitu Rasulullah saw.
Selektif mencari sahabat suatu keniscayaan. Sebab sahabat itulah yang akan banyak mewarnai kehidupan seseorang. Karenanya Allah SWT. memerintah kita bertakwa yang beriringan dengan menyuruh bersahabat dengan orang-orang yang jujur. Allah SWT. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (At-Taubah: 119).
Sahabat itu yang memberi kontrol kepada temannya sekaligus ia saling menyayangi. Persahatan yang sejati adalah  yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan) dengan tulus, bukan yang senantiasa membenarkan setiap tindakannya untuk
sekedar menyenangkan di depannya.
Persahabatan itu sepanjang masa, bahkan sampai keturunannya. Persahabat orang tua dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Sejatinya persahabatan itu sampai di akhirat kelak untuk saling memberi syafaat agar masuk surga secara bersama-sama. Sesama mukmin seling mendoakan dan tak rela kelak kalau melihat sahabatnya masih di neraka sementara ia melenggang ke surga.
Dalam sebuah hadits diceritakan, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.  Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.
Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.
Para mukminin inipun mengeluarkan sahabat-sahabatnya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya. Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”
Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”
Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).
Kemampuan menjalin persahabatan dan membina keakraban dengan orang yang baik dan berakarakter akan menunjang dan mendorong pada kesuksesan hidup, baik di dunia maupun akhirat. orang-orang yang hebat dan maju pasti sahabatnya orang-orang yang luar biasa.  Makin banyak jalinan persahabatan dengan orang baik makin mudah mengarungi hidup dan kehidupan. (Edt/Fz)
KH. M. Cholil Nafis, Lc., Ph.D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here