Tamu Allah

0
273

“Dalam pelaksanaan ibadah haji banyak mengandung latihan fisik dan kejiwaan para Tamu Allah SWT”

CHOLILNAFIS.COM, Jakarta-Tamu itu orang yang datang ke rumah atau tuan rumahnya. Tuan rumahlah yang menerima kedatangan orang lain di rumahnya. Jika jemaah haji adalah tamu maka tuan rumahnya adalah Allah SWT di “rumah-Nya”, baitullah. Ini bukan berarti Allah memiliki rumah seperti manusia tetapi Allah yang tak bertempat itu telah menyebutkan tempat sujud hambanya adalah rumah-Nya.
Adabnya orang bertamu adalah untuk mendekatkan diri dengan tuan rumahnya, demikian juga para jemaah haji yang telah dipanggil oleh Allah SWT, datang berbondong-bondong dari seluruh arah perjuru dunia dengan cara berbeda-beda. Bahkan di Indonesia antre bertahun-tahun untuk memenuhi panggilan-Nya. Tak ada hal yang lebih mendekatkan dengan “tuan rumah” kecuali mengikuti perintah dan larangan-Nya.
Yang tak kalah pentingnya dalam kunjungan memenuhi panggilan Allah SWT adalah ikhlas yang berdasarkan iman yang kokoh dalam dirinya. Maka dalam menyambut perintah-Nya hendaklah dilakukan dengan penuh ketulusan dan dipersembahkan hanya untuk-Nya tanpa menyekutukan dengan yang lain-Nya dan tidak karena gengsi apalagi pamer kepada orang lain.
Dalam pelaksanaan ibadah haji banyak mengandung latihan fisik dan kejiwaan para Tamu Allah SWT. Secara fisik, jelas bahwa semua pelaksanaan haji memerlukan kekuatan fisik, yaitu mulai perjalanan ihram, wukuf, thawaf, sa’i, mabit dan jemaraat. Bahkan, dalam pelaksanaan ibadah haji tak ada bacaan-bacaan wajib yang menjadi syarat sahnya haji.
Training kajiwaan dapat diresapi artinya dari satu persatu dalam rukun dan wajib ibadah haji. Saat memakai ihram jiwa ini dilatih dengan tauhid kepada Allah SWT bahwa diri manusia tak punya kekuatan dan kemampuan apa-apa.
Dua helai kain ihram pertanda manusia ini telanjang yang hanya ditutupi kain putih. Seandainya kain itu dilepas maka aib (aurat) manusia terbuka. Itulah kesamaan seluruh manusia di depan Allah tak ada yang membedakan kecuali takwanya.
Saat wuquf di Arafah berarti kita diam sejenak dari hiruk pikuk kehidupan duniawi menuju ‘arafah (mengetahui) hakikat dirinya itu siapa. Jika ia telah tahu (‘arafah) siapa sebenarnya diri ini maka ia akan tahu siapa Tuhan-Nya. Inilah lonceng pengingat kehidupan manusia yang terkadang terlena dengan kehidupan dunia.
Saat Mabit (menginap) di Muzdalifah dan Mina itulah makna perlunya beristirahat sejenak untuk mengumpulkan energi melawan serangan musuh agama, yaitu setan. Baik setan dalam dirinya berupa hawa nafsu maupun berupa bujuk rayu dari setandan manusia.
Makanya, yang selanjutnya dilakukan dalam ibadah haji adalah lempar jumrah. Inilah simbol bahwa setan itu harus dijadikan musuh bagi manusia karena selamanya setan itu hanya untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.
Ibadah thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran menunjukkan bahwa alam raya yang di bumi, di bawah atap langit ke tujuh berputar di hari ketujuh sebagaimana para malaikat dan jagad raya ini memutar di antara siklus tujuh putaran.
Saat ibadah sa’i berjalan dan lari-lari kecil bolak-balik tujuh kali dari gunung Shafa ke gunung Marwah mendidik diri ini untuk tangguh terus berupaya. Meskipun, terkadang upaya itu tak membuahkan hasil. Kewajiban umat manusia dalam hidupnya tak boleh berhenti berusaha untuk memenuhi hajatnya. Sebab, upaya itulah yang oleh Allah dikabulkan hajat hambanya.
Sebagaimana Ibunda Siti Hajar, saat naik gunung Shafa dan balik menuju ginung Marwah yang tak mendapatkan air yang dicarinya tetapi kemudian air zamzam itu memancar dari kaki Nabi Ismail sebagai buah hasil upayanya.
Cukur rambut pertanda sudah halal kembali yang semula banyak yang diharamkan karena berihram. Inilah yang disebut tahallul. Memotong rambut ialah melatih diri untuk melepaskan pikiran yang kotor menuju kehidupan baru dan lembaran baru dalam hidupnya. Sebab orang yang mendapat haji mabrur bagaikan anak yang baru dilahirkan, ia memulai hidup tanpa dosa.
Mudah-mudahan jemaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia yang jumlahnya sekitar tiga miliar mendapat haji mabrur yang balasannya adalah Surga-Nya. Amin ya Rab.
Perjalanan Menuju Rumah Allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here