Masjid Jawa di Bangkok, Thailand

0
1367

CHOLILNAFIS.COM, Jakarta-Seusai khutbah di masjid KBRI di Thailand saya mengunjungi masjid Jawa yang didirikan oleh Muhammad Sholeh asal Rembang Jawa Tengah yang merantau ke Bangkok pada abad 19. Awalnya hanya tempat pengajian dan yasinan kemudian diwakafkan menjadi masjid dan tempat pendidikan

Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Haji Muhammad Saleh, perantauan Jawa pada tahun 2448 dalam tahun Thailand atau sekitar tahun 1906.

Masjid ini berarsitektur Jawa dengan warna bangunan hijau muda dengan atap limasan berundak tiga. Jika dilihat sepintas serasa melihat Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini. Bangunan utama masjid berbentuk segiempat ukuran 12 x 12 meter dengan empat pilar di tengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, di tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

Di luar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrab), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi tangga. Di kanan dan kirinya terdapat dua buah jam lonceng, juga terbuat dari kayu.

Ada dua bangunan utama yaitu masjid dan madrasah berbentuk rumah panggung dengan aneka jejeran kursi dan meja di kolong rumah. Sementara di seberang masjid ada tempat pemakaman Islam. Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa. Di samping kiri masjid terdapat prasasti peresmian masjid berbahasa Thailand.

Jawa Mosque punya madrasah dengan 200-an siswa. Mereka menggelar pengajian Al Quran pada hari Minggu untuk dewasa dan anak-anak pada Senin-Jumat. Di kampung Jawa ini juga tinggal juga cucu KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah sekaligus tokoh Islam Indonesia. Nama sang cucu adalah Walidah Dahlan.

Saat saya berkunjung ke masjid Jawa sempat mampir dengan Ibu Ma’rifah putri tertua pasangan dari Muhammad Irfan Dahlan (cucu Kiai Ahmad Dahlan pendiri organisasi Muhammadiyah) dan Ibu Zuhrah putri H Muhammad Sholeh, pendiri masjid Jawa asal Rembang Jawa Tengah, warga nahdhiyin.

Ma’rifah menjelaskan bahwa masjid itu terus berfungsi sebagai sarana keagamaan dan pendidikan. Ada pelajaran bahasa Indonesia di Madrasah masjid Jawa secara rutin untuk terus memelihara rasa cinta Indonesia. Pemgantar bahasa pembelajaran acapkali campur2 antara bahawa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Pengajian-pengajian masjid banyak minat menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa untuk mengenang rindu ke tanah Jawa. Tradisi masjid khas nusantara di jawa seperti beduk, pengajian dan shalawatan bahkan juga tahlilan. Terlihat suasana masyarakat sekitar Masjid seperti budaya jawa. (MCN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here