Konsultasi: Hukum Mengikuti Harakah Islam

0
280
Gambar Google

Pertanyaan :

Belakangan ada gerakan (harokah) sebagian umat Islam yang tampaknya lebih tegas dalam menegakkan syariat. Antara lain lebih berani melawan kemungkaran, dan tegas memperjuangkan pelaksanaan hukum agama. Menurut Ustad, wajibkah gerakan memperjuangkan agama seperti itu diikuti? Terima kasih atas penjelasannya.

Asyrafil Anam
Gambiran, Banyuwangi

Jawaban :

       Mas Asyrafil Anam yang dimuliakan Allah SWT,  umat islam punya kewajiban untuk berdakwah mengajak kebaikan, beramar makruf dan nahi munkar agar dapat terlaksananya syari’at islam di muka bumi  dan tercegahnya  kemunkaran seminimal mungkin. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT  dalam Al-Qur’an surah  Ali Imran :104, “Dan hendak-lah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”

            Metode yang dianjurkan oleh Allah swt untuk mengajak ke jalan ilahi yaitu  bisa dengan bermacam pendekatan, di antaranya dengan cara  ‘hikmah’ (bijaksana), mau’idzoh hasanah (wejangan yang baik) dan mujadalah billati hiya ahsan (berdialog dengan cara yang santun  dan baik) Q.S. al-Nahl :125.

            Rasulullah saw, dalam pesan dakwahnya kepada para  sahabat agar mendahulukan tabsyir (kabar gembira) dari pada tanfir (menakutkan), juga taysiir (kemudahan) daripada ta’siir (mempersulit). “Bassyiruu waa laa tunaffiruu yassiruu waa laa tu’assiruu.”

            Rasulullah SAW juga menaganjurkan  ketika seorang muslim  melihat kemunkaran agar  hendaknya melakukan action untuk mencegahnya kalau bisa dengan  kekuatan kalau tidak bisa ya dengan ucapan dan nasehat, kalau itupun juga tidak mampu maka dengan inkar  hati walaupun itu  dianggap paling lemahnya iman.

            Mas  Asyrafil Anam, munculnya kelompok gerakan (harokah) islam yang bergerak di bidang amar ma’ruf nahi munkar  dengan  pendekatan yang  tegas (keras) adalah salah satu ikhtiar untuk melaksanakan tugas da’wah ke jalan Allah karena kondisi  sebagian masyarakat yang sudah menipis rasa malu  dan terang-terangan berbuat maksiat sementara suprimasi hukum lemah, aparat hukum mandul, ceramah dan pengajian serta nasehat para ulama tidak diperdulikan. Dalam  situasi seperti ini sesuai dengan kondisi  maka  da’wah dengan pendekatan ‘bi yadih’ (kekuatan )  relevan dan barangkali efektif. Tetapi di sisi lain mungkin ada di suatu tempat yang masyarakatnya  kalau dikerasi malah akan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar dan kerusakan di muka bumi bahkan diyakini cara kekerasan itu  tidak efektif, maka dalam kondisi seperti ini perlu dengan pendekatan yang lembut   dan  persuasif (bilisanih) atau bahkan  cukup dengan   inkar hati saja.

            Dalam kajian historis masuknya islam ke Indonesia (Jawa) sedikitpun  tidak dengan kekuatan dan kekerasan tetapi justru dengan akhlaqul karimah para waliullah  yang menggunakan pendekatan akulturasi budaya, wejangan yang baik, suri tauladan dan memberi jalan keluar dari problem masyarakat. Sebaliknya gerakan pemberontakan islam di Indonesia dari dahulu  tidak pernah mencapai hasil, karena  hanya menimbulkan rasa antipati di kalangan masyarakat. Itulah psikologi massa masyarakat Indonesia. Berbeda dengan masyarakat lainnya.

      Mas Asyrafil Anam, menurut pendapat penulis kelompok harokah islam yang tumbuh akhir-akhir ini dengan pendekatan ‘kekuatan’ dalam amar ma’ruf nahi munkar  adalah wasilah saja untuk melaksanakan tugas da’wah. Dan hukum ikut kelompok harokah (gerakan) islam seperti itu sangat kondisional. Bisa ‘wajib’ kalau itu diyakini pasti efektif, bisa ‘mubah’ kalau ragu anatara efektif dan tidak, dan bisa ‘haram’  kalau diyakini dengan beberapa indikasi dan analisa para ahli bahwa cara  kekerasan itu akan menimbulkan kemunkaran yang lebih besar dan tercorengnya wajah santun islam. Wallau a’lam bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here